Sawah, Subak, dan Mangrove Jadi Ruang Belajar Siswa SD Widiatmika

Outing Class SD

MANGUPURA – Sawah, sistem irigasi subak, dan kawasan mangrove menjadi ruang belajar bagi siswa kelas III hingga VI SD Widiatmika dalam kegiatan outing class, Jumat, 16 Oktober 2026. Siswa diajak mengenal lingkungan, memahami budaya pertanian Bali, serta mempelajari proses pengolahan pangan melalui kunjungan ke sejumlah lokasi edukasi.

Siswa kelas III dan IV mengunjungi Teba Majalangu dan Mangrove Arboretum Park. Di Teba Majalangu, mereka mempelajari konsep subak secara sederhana, mengenal berbagai jenis tanaman, serta mengamati kegiatan pertanian. Sementara di kawasan mangrove, siswa mengikuti kegiatan penanaman dan mempelajari peran ekosistem tersebut dalam melindungi wilayah pesisir dari abrasi.

Siswa juga diperkenalkan pada manfaat lain tanaman mangrove, termasuk pemanfaatannya sebagai bahan olahan pangan. Pengenalan ini menjadi bagian dari pembelajaran tentang hubungan antara kelestarian lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Sementara itu, siswa kelas V mengikuti kegiatan trekking dan cooking class di Alam Tirta Outbound, sedangkan kelas VI mengunjungi Jatiluwih Ecofarm. Kegiatan di Jatiluwih mengajak siswa menyusuri persawahan, mengenal sistem subak, serta mengidentifikasi berbagai tanaman di sekitar kawasan pertanian.

Dalam kegiatan cooking class, siswa juga diperkenalkan pada makanan tradisional Bali, seperti jajan laklak, serta belajar membuat lawar dan es kelapa muda.

Kepala SD Widiatmika, I Putu Edi Purwanta, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran mendalam (deep learning), dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari materi secara langsung di luar kelas.

“Tujuan utamanya memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa sesuai prinsip pembelajaran mendalam. Lokasi outing juga disesuaikan dengan tema pembelajaran yang sedang dipelajari pada semester pertama,” jelasnya.

Menurut Edi, pemilihan lokasi turut mempertimbangkan jarak tempuh dan jenjang kelas. Siswa kelas III dan IV diarahkan ke lokasi yang relatif dekat dari sekolah, sementara kelas V dan VI mengikuti kegiatan di lokasi yang lebih jauh.

Untuk memastikan kegiatan tetap berkaitan dengan pembelajaran, guru menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sesuai materi pada masing-masing jenjang. Sebelum keberangkatan, siswa juga mengikuti pre-test untuk mengetahui pemahaman awal mengenai lokasi kunjungan serta persiapan yang diperlukan.

Edi mengatakan bahwa pengenalan sistem pertanian dan ekosistem mangrove diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran siswa terhadap lingkungan sekaligus memperkuat pemahaman mereka tentang budaya Bali.

“Kami ingin menanamkan kesadaran lingkungan, pengenalan budaya, serta menumbuhkan rasa syukur dalam diri siswa setelah mengetahui bagaimana proses dari membajak sawah sampai akhirnya menjadi nasi yang mereka makan setiap hari,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya memperkenalkan fungsi mangrove sebagai pelindung kawasan pesisir agar siswa memahami alasan ekosistem tersebut perlu dijaga.

Similar Posts:
Komentar