Siswa SMA Widiatmika Telusuri Proses Produksi dan Strategi Bisnis Industri Lokal Bali

MANGUPURA – Bagaimana bahan herbal diolah menjadi produk kesehatan? Bagaimana perhiasan perak diproduksi dan dipasarkan hingga menjangkau konsumen luar negeri? Dua proses industri tersebut menjadi bahan pengamatan siswa kelas X SMA Widiatmika saat mengunjungi Sanga-Sanga (PT Kutus-Kutus Herbal) dan UC Silver Bali di Kabupaten Gianyar, Jumat, 16 Oktober 2026.

Kunjungan bertema “Kilau Perak & Harmoni Herbal” tersebut merupakan bagian dari program pembelajaran luar kelas SMA Widiatmika. Siswa diajak memahami proses produksi, strategi pemasaran, serta pengelolaan tenaga kerja pada dua sektor industri yang memanfaatkan sumber daya dan keterampilan masyarakat lokal Bali.

Ketua Panitia Outing Class SMA Widiatmika, I Wayan Widhi Yasa Narayana, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa kedua perusahaan dipilih karena mewakili karakter industri yang berbeda. Sanga-Sanga bergerak dalam pengolahan produk herbal berbahan dasar sumber daya alam, sedangkan UC Silver merupakan industri kerajinan perak yang berorientasi pada pasar ekspor.

“Pemilihan ini bertujuan agar siswa dapat membandingkan karakteristik industri pengolahan bahan baku alam dengan industri manufaktur padat karya, yang sangat relevan dengan materi pembelajaran di sekolah serta pemberdayaan masyarakat lokal,” ujar Widhi.

Di Sanga-Sanga, siswa mendapat pengenalan mengenai pengolahan bahan herbal, termasuk tahapan ekstraksi dan pengemasan produk. Pengamatan tersebut memberikan gambaran mengenai proses pengolahan bahan baku alam menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Sementara itu, kunjungan ke UC Silver Bali memperkenalkan proses pembuatan perhiasan perak, mulai dari perancangan desain, peleburan, pengukiran, penyelesaian akhir (finishing), hingga pemasaran ritel. Siswa dapat melihat peran keterampilan perajin dalam menghasilkan produk yang dipasarkan kepada konsumen.

Selain pengamatan proses produksi, kegiatan juga mencakup diskusi dengan perajin, praktisi operasional, dan pihak manajemen. Pembahasan diarahkan pada tantangan menjalankan usaha, strategi pemasaran, serta pengelolaan sumber daya manusia dalam industri.

Menurut Widhi, pengalaman tersebut berkaitan dengan materi pembelajaran mengenai dinamika pasar dan interaksi sosial di lingkungan kerja. Siswa diharapkan mampu memahami bagaimana kegiatan industri melibatkan bahan baku, tenaga kerja, dan strategi bisnis yang saling berkaitan.

“Di Sanga-Sanga, siswa melihat proses pengolahan bahan herbal, ekstraksi, hingga pengemasan produk. Di UC Silver, siswa mengamati proses perancangan desain perhiasan, peleburan, pengukiran perak, hingga tahap finishing dan pemasaran ritel,” jelasnya.

Widhi menambahkan bahwa hasil kunjungan dapat ditindaklanjuti melalui laporan kelompok atau Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis inkuiri. Evaluasi pembelajaran dirancang dengan pendekatan pembelajaran mendalam dan taksonomi SOLO untuk mendorong kemampuan analisis siswa.

“Evaluasi diarahkan agar siswa tidak hanya mendeskripsikan proses yang mereka lihat, tetapi juga mampu menganalisis dampak industri terhadap perekonomian,” kata Widhi.

Melalui kunjungan ke dua industri tersebut, SMA Widiatmika berupaya menghubungkan materi pembelajaran dengan praktik ekonomi di masyarakat. Siswa diharapkan memperoleh pemahaman mengenai bagaimana sumber daya alam, keterampilan tenaga kerja, dan strategi pemasaran berperan dalam pengembangan industri lokal Bali.

Similar Posts:
Komentar