JIMBARAN – Tabuhan baleganjur menggema di lingkungan Sekolah Widiatmika pada Jumat, 13 Maret 2026, menandai dimulainya Kirab Budaya yang kembali digelar sebagai rangkaian kegiatan menjelang Hari Raya Nyepi. Para siswa dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga SMK turut ambil bagian dalam kirab yang menghadirkan fragmen tari tematik serta pengarakan ogoh-ogoh di sekitar area sekolah.
Kirab Budaya tahun ini mengangkat tema “Atmaning Walik Sengara”, yang menggambarkan kondisi ketika nilai-nilai kebenaran terbalik: yang benar dianggap salah, sementara yang salah justru dibenarkan karena kekuasaan maupun materi. Melalui tema ini, peserta didik diajak memahami pentingnya menjaga etika, sikap, serta kemampuan membedakan mana nilai yang patut diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak pagi hari, siswa, guru, dan masyarakat telah memadati area sekolah untuk menyaksikan rangkaian kegiatan. Kirab diawali dengan penancapan tombak keris sebagai simbol pembukaan kegiatan, yang kemudian dilanjutkan dengan tabuhan baleganjur oleh siswa Sekolah Widiatmika, menghadirkan nuansa sakral yang menandai dimulainya perayaan budaya tersebut.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pementasan seni yang melibatkan kolaborasi siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Dalam satu kesatuan pertunjukan, para siswa menampilkan fragmen tari yang disusun sesuai dengan tema kirab tahun ini, menggambarkan pesan yang terkandung dalam Atmaning Walik Sengara. Meski hujan sempat turun saat pementasan berlangsung, para siswa tetap tampil dengan penuh semangat hingga seluruh rangkaian pertunjukan selesai.
Selain pementasan seni, kirab budaya juga menghadirkan pengarakan ogoh-ogoh yang diusung oleh para siswa bersama guru. Ogoh-ogoh tersebut diarak mengelilingi jalan di sekitar lingkungan sekolah sebelum kembali ke area kegiatan. Rintik hujan yang turun saat pengarakan berlangsung tidak mengurangi antusiasme para peserta. Mereka tetap berjalan menyusuri rute kirab dengan penuh semangat, menunjukkan kebersamaan dalam merayakan tradisi budaya tersebut.
Ketua Panitia Kirab Budaya Widiatmika 2026, I Kayan Gung Aprilia, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kirab budaya menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya.
Menurutnya, pendidikan dan budaya memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Ia mengingatkan bahwa sebagaimana yang disampaikan Ki Hajar Dewantara, pendidikan berangkat dari budaya, dan melalui pendidikan pula nilai-nilai budaya dapat terus diciptakan serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kirab Budaya bukan hanya tentang pertunjukan seni, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi siswa untuk memahami nilai etika dan sikap dalam kehidupan. Melalui tema Atmaning Walik Sengara, kami ingin mengajak semua pihak untuk kembali merefleksikan nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa Sekolah Widiatmika terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang terbuka dan inovatif, sehingga siswa memiliki ruang untuk mengembangkan potensi mereka secara lebih luas, termasuk melalui kegiatan seni dan budaya seperti yang ditampilkan dalam kirab ini.
Dalam rangkaian kirab tahun ini, pementasan yang ditampilkan juga mengangkat kisah Kalikamaya, yang digambarkan lahir dari tumpukan sampah. Kisah tersebut menjadi simbol penting tentang kepedulian terhadap lingkungan sekaligus pengingat bahwa menjaga alam memiliki dampak besar, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi keberlangsungan kehidupan di sekitarnya.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mempelajari budaya secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam proses kreatif, kerja sama, serta pemaknaan nilai yang terkandung dalam tradisi. Kolaborasi lintas jenjang yang terjadi dalam kirab juga menunjukkan semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter di Sekolah Widiatmika.
Kirab Budaya Widiatmika 2026 kembali menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui seni, tradisi, dan pengalaman bersama, siswa diajak memahami nilai kehidupan secara lebih mendalam sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga keseimbangan antara pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.