JIMBARAN – Membangun lingkungan belajar yang aman dan nyaman dimulai sejak hari pertama siswa menginjakkan kaki di sekolah. Prinsip tersebut diwujudkan SMA Widiatmika melalui pelaksanaan asesmen bullying dan kesetaraan gender sebagai bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Asesmen ini menjadi salah satu langkah awal sekolah untuk mengenali pemahaman siswa sekaligus menyusun pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka selama menempuh pendidikan di SMA Widiatmika.
Ketua Panitia MPLS SMA Widiatmika, I Kadek Kusuma Mandala Putra, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa asesmen tersebut bukan sekadar kegiatan pengenalan sekolah, melainkan bagian dari upaya menciptakan budaya belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Hasil asesmen akan menjadi salah satu dasar bagi sekolah dalam memberikan pembinaan karakter serta layanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
“Asesmen bullying dan kesetaraan gender bertujuan membangun lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Hasil asesmen menjadi dasar pembinaan karakter dan layanan bimbingan konseling agar siswa memahami pentingnya mencegah perundungan dan menghormati perbedaan,” ujarnya.
Asesmen tersebut dilaksanakan pada hari ketiga MPLS, bersamaan dengan sejumlah kegiatan yang berfokus pada penguatan karakter dan kesiapan belajar siswa. Selain mengukur pemahaman siswa mengenai isu sosial di lingkungan sekolah, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi guru untuk memperoleh gambaran awal mengenai kondisi siswa sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih tepat sejak awal tahun ajaran.
Pendampingan tersebut tidak berhenti pada aspek sosial. Bahkan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, SMA Widiatmika juga melaksanakan tes pemetaan minat dan bakat untuk seluruh siswa baru. Melalui pemetaan ini, guru memperoleh informasi awal mengenai potensi, kecenderungan, dan karakter belajar masing-masing siswa sehingga proses pembelajaran dapat dirancang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Menurut Mandala, hasil pemetaan tersebut membantu guru memahami setiap siswa secara lebih utuh. Tidak hanya mendukung perkembangan akademik, tetapi juga menjadi dasar dalam pengembangan karakter serta perencanaan masa depan siswa.
“Tes pemetaan minat dan bakat dilakukan sebelum pembelajaran dimulai agar guru memahami potensi setiap siswa sejak awal. Hasilnya menjadi dasar untuk merancang pembelajaran yang lebih personal dan mendukung perkembangan akademik, karakter, serta perencanaan masa depan siswa,” jelasnya.
Selama empat hari pelaksanaan MPLS, siswa baru mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk membantu proses adaptasi terhadap lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut mencakup pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun), pengenalan kurikulum, asesmen diagnostik akademik, literasi digital, sosialisasi sistem administrasi sekolah, pengenalan ekstrakurikuler, sesi inspiratif bersama alumni, serta edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba bersama Badan Narkotika Nasional (BNN).
Mandala menilai bahwa masa transisi dari SMP menuju SMA merupakan salah satu tantangan yang dihadapi siswa baru. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan dan teman baru, mereka juga mulai menghadapi pola pembelajaran yang lebih mandiri serta tuntutan akademik yang berbeda dibandingkan jenjang sebelumnya. Oleh karena itu, seluruh rangkaian MPLS dirancang agar siswa tidak hanya mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga merasa diterima dan memiliki tempat yang aman untuk bertumbuh.
“Melalui MPLS, kami membantu mereka mengenal sekolah, membangun rasa percaya diri, serta memastikan setiap siswa merasa diterima dan didampingi oleh guru, wali kelas, dan tim bimbingan konseling,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pendampingan yang diberikan sekolah merupakan bagian dari komitmen untuk membangun budaya sekolah yang menghargai setiap individu. Lingkungan belajar yang sehat, menurutnya, menjadi fondasi penting agar siswa mampu berkembang secara akademik maupun pribadi.
Di akhir pelaksanaan MPLS, Mandala berharap seluruh pengalaman yang diperoleh siswa selama masa pengenalan sekolah menjadi bekal untuk menjalani tiga tahun pembelajaran di SMA Widiatmika.
“Saya berharap siswa mengingat bahwa SMA Widiatmika adalah tempat yang aman untuk belajar, bertumbuh, dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Kami ingin mereka tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter, integritas, kepedulian, dan semangat untuk terus berkembang selama tiga tahun ke depan,” tutupnya.