Perjusa SMA Widiatmika Dorong Siswa Penegak Mengambil Peran dan Keputusan

JIMBARAN – SMA Widiatmika menggelar kegiatan Perkemahan Jumat–Sabtu (Perjusa) pada 24–25 April 2026 sebagai bagian dari pembinaan karakter melalui kegiatan Gerakan Pramuka di tingkat Penegak. Kegiatan ini melibatkan siswa Pramuka SMA Widiatmika dengan peran aktif dewan ambalan sebagai pengelola kegiatan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi.

Pembina Pramuka SMA Widiatmika, Putu Mita Wulandani, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa keterlibatan dewan ambalan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran kepemimpinan siswa.

“Peran dewan ambalan dalam kegiatan Perjusa ini sangat banyak sehingga bisa melatih mereka dalam kepemimpinan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi semua dirancang rapi oleh dewan ambalan dengan didampingi oleh kakak pembina,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat siang melalui registrasi dan upacara pembukaan, sebelum peserta mengikuti pengembaraan dengan sistem post to post. Dalam setiap pos, siswa dihadapkan pada berbagai tantangan yang menuntut kerja sama serta kemampuan menyelesaikan masalah secara langsung.

Selama kegiatan berlangsung, dinamika kelompok terlihat melalui peran pemimpin sangga (pinsa) dalam mengoordinasikan anggota. Setiap tantangan diselesaikan melalui diskusi bersama antaranggota kelompok.

“Di sini terlihat pimpinan sangga sangat mengoordinir anggota sangganya, dan dalam menyelesaikan masalah mereka selalu berembug bersama sehingga masalah dalam setiap pos bisa terselesaikan dengan baik,” lanjutnya.

Memasuki sore hari, kegiatan berlanjut dengan praktik memasak mandiri oleh masing-masing sangga, dilanjutkan makan bersama serta kegiatan malam. Suasana kebersamaan kemudian berlanjut dalam api unggun dan pentas seni yang menjadi bagian dari rangkaian Perjusa.

Menurut Mita, pengalaman paling membentuk muncul ketika siswa berada dalam posisi memimpin, baik sebagai ketua sangga maupun pradana. Dalam situasi tersebut, siswa belajar memahami tanggung jawab atas keputusan yang diambil, menjaga disiplin selama kegiatan, serta membangun kerja sama dalam kelompok. Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan ini memiliki makna tersendiri karena Pramuka di tingkat SMA tidak bersifat wajib.

“Sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang tidak bersifat wajib, justru siswa yang tetap aktif mengikuti kegiatan seperti Perjusa menunjukkan nilai komitmen yang sangat tinggi. Mereka hadir bukan karena kewajiban, melainkan karena kesadaran, minat, dan kemauan sendiri,” ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan pada Sabtu pagi dengan senam bersama dan permainan kebersamaan, sebelum ditutup melalui upacara penutupan. Rangkaian ini menjadi ruang bagi siswa untuk belajar mengambil peran, menentukan keputusan, dan menjalankan tanggung jawab secara langsung dalam kebersamaan.

Similar Posts:
Komentar